Ari Prasetyo

Selasa, 07 Oktober 2014

KARYA SENI RUPA MODERN/KONTEMPORER

KARYA SENI RUPA MODERN/KONTEMPORER
A.    Keunikan Karya Seni Rupa Modern /Kontemporer
1.      Gaya Primitif
Bentk karya seni rupa gaya primitif cenderung bersifat sebagai berikut :
a.       Karya tercipta dengan ekspresif (penuh emosional atau ungkapan perasaan)
b.      Proporsisi bentuk tidak sempurna atau tidak wajar, penuh distorsi (penglihatan, penyagatan dan pengurangan) atau dilebih lebihkan.
c.       Karya yang diciptakan lugas atau apa adanya, dan bertema peraturan, susila, dan etika (sopan santun).
2.      Gaya Klasik
Seni rupa gaya klasik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Pada awalnya, seni rupa gaya klasik diilhami masa sejarah atau zaman kerajaan yang penuh keindahan, kemegahan, kewibawaan dan kesempurnaan
b.      Pengembaraan segala sesuatu pada seni rupa gaya ini serba sempurna, termasuk objek wisata
c.       Pada karya seni kriya dan seni bangun, tampak mewah dengan ornamen (hiasan) dan ukiran yang cenderung glamour.
3.      Gaya Baru/Modern
Seni rupa gaya baru ialah tataran nilai seni yang lebih. Berkarya seni rupa tidak sekedar aktivitas fisik (lahiriah), tetapi juga aktivitas psikis (batiniah). Dalam berkarya seni rupa tidak sekedar peniruan alam, tetapi juga ekspresi dari ide dan kreativitas perupa. Dengan demikian, gaya baru/modern ini menghasilkan karya-karya yang unik, bahkan kadang-kadang terasa aneh.

B.     Perkembangan Seni Rupa Modern/Kontemporer Mancanegara
1.      Seni Rupa Prasejarah
Contoh seni rupa prasejarah :
a.       Lukisan di gua gua Prancis Selatan dan Spanyol berupa gambar binatang, sperti sapi hutan, kuda liar, dan babi hutan
b.      Patung dan bangunan, seperti patung mamut (Yunani), manusia (Romania), menhir, kuil/tempat upacara ritual (Stonehenge di Inggris), dan patung sedada Mohenjodaro (India)
Ciri-Ciri karya seni prasejarah :
a.       Penggarapan atau teknis pembuatan masih kasar
b.      Bentuk-bentuk global, figuratif banyak distori, dan sederhana
c.       Kesan magis dan ritual.

2.      Seni Rupa Klasik (kuno)
Contoh karya seni rupa klasik :
a.       Gambar-gambar pada barang keramik, seperti jambangan (Vase Painting) Yunani Gambar Tulisan (Hieroglif Mesir).
b.      Lukisan Fesco (Wall Painting) dan Mozaik pada rumah-rumah di Roma, Ostria, Pompei (Mozaik Painting)
c.       Seni Patung Masa Ini .
1.      Patung Dewi Nike, Venus, Patung Dewa Zeus, Laokoon, Demostenos, Pelempar Cakram, Lembing di Yunani.
2.      Patung Aprodite di Romawi, Patung Orator (Arringtone), Patung Mycerimus, dan Permaisuri di Mesir.
d.      Seni Bangun à Kuil Zeus di Olimpia, Partheon di Athena, Arch’s Titus, Coloseum Flavium (Romawi), Piramida dan Sphinx Mesir, Stupa Sanci (India), Kuil Gua Karli (India).

Ciri –ciri karya seni masa ini :
a.       Penggarapan/teknis detail, sempurna dan agak halus
b.      Bentuk-bentuk realis-natural, corak dekoratif, banya atribut, dan banyak ornamen.
c.       Kecenderungan idealis, kesan agung dan religius.

3.      Seni Rupa Zaman Kerajaan
Contoh karya seni rupa zaman kerajaan :
a.       Lukisan Herculaneum (Romawi), Lukisan kaca gotik, lamention (Giotto), Andrea Mantegua, Lukisan dinding Ajanta (India), Dewi Kemakmuran (Cina) Lukisan Romaneska (Romawi), dan dua kekasih diatas salju (Jepang).
b.      Patung Singa Tugu Asoka, Buddha dari Gandhara, Sarnath/Gupta (India), patung Unkey, Kwanon Kichijoten (Jepang), patung-patung gereja dan reliefnya.

Ciri-ciri karya seni rupa zaman kerajaan :
a.       Penggarapan/teknis detail, teliti, sempurna dan halus
b.      Bentuk-bentuk naturalis sempurna, sebagian corak dekoratif, menunjukkan ekspresi yang jelas, dan umumnya dinamis.
c.       Mulai tematis, berkaitan tujuan tertentu, banyak berkesan fisik/ material, kurang kesan kejiwaan.
d.      Akademik.

4.      Seni Rupa Zaman Baru/Modern
a.      Seni Lukis
Secara berturut-turut berkembang semakin maju. Contoh karya seni dan pelukisnya adalah Monalisa (Leonardo Da Vinci), Putusan terakhir, “Patung Pemuda” (Michelangelo), dan karya-karya pelukis Rembrandt Van Rijn, Giotto, Rubens, Van Dijick, dan Raffael Santi.
Dalam Perkembangannya, seni lukis menjadi berbagai aliran, yaitu sebagai berikut :
Ø  Klasikisme
Memiliki ciri-ciri :
a.       Generalisme (Lazim dan umum)
b.      Kemegahan (Mewah)
c.       Idealisme (sesuatu yang didambakan)
d.      Rasio menjadi titik tolak seni
Tokohnya yaitu Jacques Louis Da Vid Watten, Vigee Lebrum, dan Jan Ingres.
Ø  Neo-Klasikisme
Aliran ini dipengaruhi oleh seni klasik Yunani dan Romawi Kuno. Sifat-sifat aliran ini antara lain :
a.       Homosentris dan idealisme
b.      Berkaitan dengan perasaan seseorang (sebjektif)
c.       Mendambakan yang sangat harmonis
d.      Berusaha memikat hati
Tokohnya yaitu Gorodet, Michelangelo, Leonardo Da Vinci, dan Rapheal
Ø  Romantisme
Aliran ini muncul sejak adanya revolusi Prancis. Sifat aliran ini yaitu :
a.       Penggambaran emosi yang memuncak
b.      Penuh dinamika
c.       Menggambarkan peristiwa yang sangat menarik (dramatis)
Tokohnya yaitu Teodore Gericault, Eugene Delacroix, dan Millet.
Ø  Realisme
Aliran realisme bertentangan dengan aliran romantisme yang emosional. Alira realisme menggambarkan hal yang lebih nyata atau riil. Aliran ini cenderung melebihkan karakter. Sifat aliran ini yaitu :
a.       Melukiskan dunia tanpa fantasi
b.      Menggambarkan sesuai dengan kenyataan sebenarnya
c.       Cenderung melebih-lebihkan karakter
Tokohnya yaitu Gustave Coubert
Ø  Naturalisme
Naturalisme à melukis dengan cara meniru keadaan alam dengan mengutamakan bentuk dan kesamaan objek, warna, proposisi dan bentuknua sesuai dengan keadaan asli. Tokohnya yaitu Theodore Rousseau
Ø  Impresionisme
Impresionisme à melukis dengan mengutamakan kesan yang dihasilkan dari hasil pandang senimannya. Karya nya tidak mendetail, hanya kesan yang tanpa garis penegas. Warna yan digunakan biasanya memilih warna yang cemerlang dari kilasan sinar. Tokohnya yaitu Monet, Claude Manet, Aguste Renoir dan Camille Pissaro.
Ø  Ekspresionisme
Ekspresionisme à melukis dengan goresan garis dan warna yang tampak spontan, tegas, cepat dan dinamis (penuh gerak). Pelukis mengambil ciri-ciri khusus untuk ditonjolkannya, sehingga meguatkan karakter (dengan distori atau penglihatan). Tokohnya yaitu Vincent Van Gogh, Gaugin, dan Eduard Munch.
Ø  Kubisme
Kubisme à melukis dengan menampilkan olbjek yang seolah terdiri atas bidang-bidang geometris, persegi, kotak, sepert kubus yang tersusun. Alam disederhanakan berkesan seperti bidang atau kubus. Penciptaan kubus dapat dihasilkan dengan garis atau warna. Tokohnya yaitu Pablo Picasso dan Paul Cezane.
Ø  Futurisme
Futurisme à melukis dengan berusaha menampilkan kedinamisan dan berusaha mengutarakan gerak serta khayalan masa mendatang. Tokohnya yaitu Umberto Bocciani, Gialomo Balla, Severin, dan Carlo Carra.
Ø  Surealisme
Surealisme à melukis hal-hal yang khayal, intutif, seperti alam mimpi. Aliran ini banyak mengungkapkan hal-hal aneh dan ajaib yang ada diluar kesadaran. Tokohnya yaitu Salvador Dalli daan Yofra.
Ø  Dadaisme
Aliran ini menyajikan krya artistik dari bentuk-bentuk seram, magic, atau mengerikan. Aliran ini banyak diilhami dari bentuk patung primitif dan karya kuno atau nenek moyang. Namu dapat juga bentuknya seperti karya yang kekanak-kanakan.
Sifat aliran ini :
a.       Dominasi warna hitam, merah, putih, dan hijau dengan pewarnaan primer, tajam dan kontras
b.      Ada kecenderungan untuk menggambarkan kembali kearah yang primitif, kuno dan magic. Tokohnya yaitu Paul Gauguin, Paul Klee dan Kurt Sewitter.
Ø  Abstrak
Abstrak à melukis dengan tidak menggambarkan objek alam secara nyata / rill karena banyak ditentukan ide pelukisnya. Wujud karya nya tidak menyerupai atau menyamai alam, tetapi menampilkan bentuk-bentuk atau fenomena yang artistik dan unik. Oleh karena itu, penghayatan harus menguasai norma-norma seni rupa atau unsur dan prinsip seni rupa. Tokohnya yaitu Kandisky, Jackson Pollock, dan Piet Mondrian


Ø  Optic Art
Sifat dari aliran ini yaitu :
1.      Unsur yang dipakai berbentuk geometris, garis diulang-ulang dan diatur rapi sehingga diperlukan akurasi atau warna dan penempatan kesan ilmiah yang menonjol. Namun emosi dan ekspresi agak dikesampingkan.
2.      Efek permainan mata (ilusi gerak) yang memperdaya optik sangat diutamakan.
Tokohnya yaitu VictorVossarely, Andy Worhol, Jackson Pollock, dan William de Loening.
b.      Seni Patung
Seni patung juga berkembang sebagaimana seni lukis. Karya seni patung terkenal dan pematugnya adalah :
a.       Moses, Pieta                                  (Michelangelo)
b.      Jacob and Esau                             (Lorenzo Ghiberti)
c.       Patung Monument Equestrian      (Donatello)
d.      Stucco relief in the Loggie            ( Rafael Santi)
e.       The Sculptor Jules Dolue              (Aguste Rodin)
f.       Recumbent Figure                         (Henry Moore)
c.       Seni Bangun
Seni bangun zaman baru selain gereja dan masjid banyak kita dapatkan bangunan tempat tinggal atau apartemen.
Contoh bangunan pada masa ini yaitu
1.      Natre Dame (Prancis)
2.      Gereja St Agnese (Roma)
3.      Gedung Pencakar Langit (Amerika)
4.      Gedung RCA dan Woolworth, New York (Amerika)
5.      Istana Versailles (Prancis)
6.      Bangunan Palazzo Farnese (Roma)
7.      Gedung Perjamuan, Balai Putih (Banqueting House, Whitehall, Inggris)
8.      Gedung Philladelphia Saving Found Socisty (Pennsylvania).

Rangkuma :
1.      Berkarya seni rupa tidak sekedar aktivitas fisik (Lahiriah), tetapi juga aktivitas psikis (Batiniah). Perwujudan (visualisasi) karya seni rupa tidak sekedar peniruan alam, tetapi juga ekspresi batin dari ide dan kreativitas perupa.
2.      Gambar dalam seni rupa dapat dibedakan menajadi 3 macam yaitu gaya primitif, klasik, dan modern.
3.      Perkembangan kemajuan seni rupa pada umumnya sesuai dengan perekembangan budaya. Semakin maju suatu bangsa juga semakin maju keseniannya.
4.      Dalam perkembangannya, seni lukis terbagi menjadi berbagai aliran
5.      Seni patung juga berkembang sebagaiman seni lukis.
6.      Ilmu perspektif adalah ilmu cara menggambarkan benda-benda tiga dimensional dan yang meruang pada bidang datar (dua dimensi), namun pada bidang itu tampak terkesan seperti jika kita melihat yang sebenarnya.

7.      Sebelum berkarya seni rupa, perupa dapat membuat gambar rancangan. Kegiatan merancang dilakukan sebelum menciptakan karya sebenarnya yang akhirnya menjadi karya yang dimaksudkan perupanya.

Kamis, 04 September 2014

SEJARAH PERUMUSAN KONSTITUSI NEGARA INDONESIA

SEJARAH PERUMUSAN KONSTITUSI NEGARA INDONESIA

Sejarah Perumusan Konstitusi Negara Indonesia memiliki cerita yang sangat panjang dan berliku, meskipun akhirnya juga terwujud sebuah konstitusi yang diberi nama Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan diawali pembentukan sebuah badan  bernama BPUPKI .
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945 adalah badan yang menyusun rancangan UUD 1945. Pada sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei - 1 Juni 1945 membicarakan gagasan dasar negara. Beberapa tokoh bangsa mengemukakan gagasan nya tentang dasar negara .
Usul-usul yang di kemukakan adalah sebagai berikut.
A. Muhammad Yamin (29 Mei 1945)
Mengusulkan dasar negara dalam pidatonya yang tidak tertulis tanggal 29 Mei 1945 pada sidang BPUPKI, yaitu peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.
Setelah berpidato, beliau menyampaikan usul tertulis naskah rancangan UUD Republik Indonesia. Di dalam pembukaan itu tercantum rumusan lima asas dasar negara yang berbunyi sebagai berikut.
1.      Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.      Kebangsaan Persatuan Indonesia.
3.      Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradap.
4.      Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

b    B. Prof. Dr. Supomo (31 Mei 1945)
Prof. Dr. Supomo mengusulkan lima asas sebagai dasar negara, Yaitu persatuan, kekeluargaan, keseimbangan lahir dan batin, musyawarah, serta keadilan rakyat.
C.       Ir. Soekarno (1 Juni 1945)
Pada tanggal 1 Juni 1945 mengemukakan usulnya dalam sidang BPUPKI mengenai dasar negara Indonesia merdeka, Yaitu kebangsaan Indonesia; internasionalisme dan perikemanusiaan; mufakat atau demokrasi; kesejahteraan sosial; Ketuhan yang berkebudayaan.
BPUPKI pada sidang pertama ini belum mencapai kata sepakat tentang dasar negara Indonesia merdeka maka akhirnya dibentuk Panitia Kecil. Panitia Kecil ini mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh nasional yang juga tokoh-tokoh Badan Penyelidik, pertemuan ini berlangsung sampai tanggal 22 Juni 1945. Panitia Kecil kemudiaan membentuk panitia Sembilan (karena anggotanya 9 orang) yang berhasil menyusun suatu  piagam , yaitu Piagam Jakarta (Jakarta Charter), di mana tercantum rumusan dasar negara sebagai berikut.
1.      Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2.      Kemanusiaan yang adil dan beradap.
3.      Persatuan Indonesia.
4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Pada saat menyusun UUD dalam Sidang Kedua BPUPKI ( tanggal 10-16 Juli 1945), Piagam Jakarta dijadikan Muqaddimah (preamble). Kemudian, pada pengesahan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI, istilah Muqaddimah diubah menjadi Pembukaan UUD setelah kalimat pada butir pertama dalam piagam Jakarta tentang dasar negara diganti menjadi “Ketuhan Yang Maha Esa.” . perubahan butir pertama dilakukan oleh Drs. Moh. Hatta atas A.A Maramis setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagus Hadikusumo.
Naskah Piagam Jakarta ditulis dengan menggunakan ejaan Republik dan ditandatangani oleh Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, A.A Maramis, Abikoesno Tjolrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A Salim, achmad Subarjo, Wachid Hasjim, dan Muhammad Yamin.
Sehari setelah proklamasi Kemerdekaan, dilakukan Sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1945. Sidang PPKI menetapkan hal-hal penting bagi penyelengaraan kehidupan bernegara Indonesia. Hal-hal penting tersebut adalah menetapkan undang-undang dasar negara, memilih presiden dan wakil presiden , serta membentuk sebuah Komite Nasional untuk membantu presiden dalam menjalankan kekuasaan. Selanjutnya, di kemudian hari komite ini berubah fungsi sebagai badan legislatif.
Naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) , kemudian di kukuhkan oleh komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal 29 Agustus 1945.
Dengan diteteapkan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia padatanggal 18 Agustus 1945 maka mulailah negara indonesia menjalankan sistem pemerintahannya berdasar undang-undang dasar tersebut. Menurut Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang kemudian dikenal dengan nama UUD 1945.

Selasa, 19 Agustus 2014

UPAYA PERLINDUNGAN, PEMAJUAN, DAN PENEGAKKAN HAM SESUAI DENGAN NILAI PANCASILA

Peran serta dan upaya pemajuan, penghormatan dan penegakkan HAM di Indonesia, tidak terlepas dari kesadaran internal atas perkembangan opini dunia terhadap masalah-masalah demokratisasi dan HAM. Hal ini dapat kita lihat pada UUD NRI Tahun 1945 dan batang Tubuhnya yang mencantumkan prinsip-prinsip pelaksanaan HAM.
Dorongan eksternal, dapat kita cermati dari sorotan-sorotan yang dilakukan oleh negara-negara barat terhadap perkembangan HAM di Indonesia. Selain itu, terdapat pula lembaga-lembaga independen seperti Humas Rights Watch atau Amnesty Internasional yang secara berkala membuat penilaian terhadap penegakan HAM dari berbagai belahan dunia. Penilaian semacam itu sesungguhnya bermakna positif bagi perkembangan penegakkan HAM di Indonesia dalam rangka lebih menyempurnakan upaya-upaya nyata penegakkan HAM di Indonesia.
Dalam perkembangan lebih lanjut, peran serta dan upaya pemajuan, penghormatan dan penegakkan HAM di Indonesia dilakukan melalui hal-hal berikut :
1.      Pada tanggal 7 Juni 1993, telah diupayakan berdirinya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM) sebagai tindak lanjut Lokakarya tentang HAM yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri RI dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Salah satu tujuan pembentukan KOMNASHAM adalah untuk meningkatkan perlindungan HAM. Demi mewujudkan tujuan tersebut, maka KOMNASHAM melakukan rangkaian kegiatan antara lain :
a.       Menyebarluaskan wawasan internasional dan internasional mengenai HAM baik kepada masyarakat Indonesia maupun kepada masyarakat Internasional
b.      Mengkaji berbagai instrumen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang HAM dengan tujuan memberikan saran-saran mengenai kemungkinan aksesi dan atau ratifikasinya.
c.       Memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM serta memberikan pendapat, pertimbangan dan saran kepada badan pemerintahan negara mengenai pelaksanaan HAM
d.      Mengadakan kerja sama regional dan internasional dalam rangka memajukan dan melindungi HAM.
2.      Pasca Orde Baru (era reformasi), perhatian terhadap upaya pemajuan, penghormatan dan penegakkan HAM di Indonesia semakin nyata, yakni dengan disahkannya Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM pada tanggal 13 November 1998. Dalam ketetapan tersebut, MPR menugaskan kepada lembaga-lembaga negara dan seluruh aparatur pemerintah untuk menghormati, menegakkan, dan menyebarluaskan pemahaman tentang HAM. Selain itu, presiden dan DPR juga ditugaskan untuk segera meratifikasi berbagai instrumen internasional tentang HAM
3.      Landasan bagi penegakkan HAM di Indonesia semakin kokoh setelah MPR melakukan amandemen terhadap UUD 1945. Dalam amandemen UUD 1945 tersebut persoalan HAM mendapat perhatian yang khusus dengan ditambahkannya bab XA tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri atas pasal 28 A hingga 28 J. Hal ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menegakkan HAM
4.      Tonggak lain dalam sejarah penegakkan HAM di Indonesia adalah berdirinya pengadilan HAM yang dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000. Pengadilan HAM ini merupakan suatu pengadilan yang secara khusus menangani kejahatan pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan Genosida  dan kejahatan terhadap kemanusiaan
5.      Pembentukan lembaga-lembaga yang menangani kejahatan HAM dan penyusunan beberapa instrumen hukum pokok yang mengatur perlindungan terhadap HAM, secara nyata mendorong penegakkan HAM di Indonesia. Beberapa kasus kejahatan HAM yang terjadi pada masa lalu kini mulai terkuak. Terhadp tuntutan yang sangat keras dari masyarakat untuk menyelidiki kembali beberap kasus yang diduga telah menista nilai-nilai kemanusiaan. Perhatian besar ditujukan kepada kasus-kasus seperti penanganan protes massa Tanjung Priok 1984, pelanggaran selama pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh pada masa 1980-an hingga dicabut pada tahun 1998, kerusuhan dan penembakan mahasiswa pada mei 1998, dan perusakan atau pembunuhan pasca referendum yang menghasilkan kemerdekaan Timor-Timur pada 1999
6.      Pembentukan Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM tahun 2003 yang mempunyai tugas pokok untuk menyelidiki kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM. Diantara kasus-kasus tersebut bahkan kasus Tanjung Priok dan kasus Timor-Timur telah ditangani oleh pengadilan HAM. Dalam kasusu yang lain menyangkut berbagai pelanggaran semasa pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan penembakan mahasiswa yang dikenal sebagai Tragedi Semanggi dan Tragedi Trisakti. Selain itu, juga muncul desakan dari masyarakat. Desakan tersebut munsul karena sebagian anggota masyarakat merasa bahwa hingga kini penegakkan HAM di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan dan tantangan.

7.      Disisi lain, melalui berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), banyak pihak melakukan pembelaan dan bantuan hukum (advokasi) terhadap para korban kejahatan HAM. Beberapa lembaga yang aktif pada tahun-tahun terakhir ini Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), komisi untuk orang hilang dan tindak kekerasan (KonTras), Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia(Elsham) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Lembaga semacam itu berperan penting dalam upaya pemajuan, penghormatan, perlindungan dan bantuan hukum kepada koraban kejahatan HAM serta menyebarluaskan pentingnya perhatian terhadap persoalan HAM.

Rabu, 06 Agustus 2014

Tugas PPKn kelas X TKJ

Tugas 1 PPKn Kelas X Teknik Komputer dan Jaringan :

Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia sejak dahulu hingga sekarang sangat memprihatinkan. bahkan banyak kasus yang sampai saat ini belum dapat ditemukan penyelesaiannya.
silahkan Analisis Permasalahan kasus-kasus pelanggaran HAM "Kisah Marsinah".
Serta (pilih salah satu) :
1. Kasus Trisakti (1998)
2. Kasus Semanggi (1998)
3. Kasus Munir (2004)
Tugas dikerjakan secara kelompok. satu kelompok terdiri dari 4 Orang.

Rabu, 01 Januari 2014

Belajar Musik


Selasa, 31 Desember 2013

Logo Resmi ISNAM BAND SMK Ma'arif NU 1 Purbolinggo Lampung Timur


Senin, 10 Juni 2013

Sejarah Suku Lampung

BAB I
PENADAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata "anjak lambung" yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung.
Ulun lampung atau orang Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah ulun Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sampai meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Awal Suku Lampung
Asal usul ulun lampung atau orang Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah ulun Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sampai meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.
Sekala Brak memiliki makna yang dalam dan sangat penting bagi orang Lampung. Sekala Brak melambangkan peradaban, kebudayaan dan eksistensi Lampung itu sendiri. Bukti tentang kemasyuran kerajaan Sekala Brak didapat dari cerita turun temurun yang disebut warahan, warisan kebudayaan, adat istiadat, keahlian serta benda dan situs seperti tambo dan dalung seperti yang terdapat di Kenali, Batu Brak dan Sukau.
Kata "LAMPUNG" sendiri berawal dari kata Anjak Lambung yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.
Dilereng Gunung Pesagi didapati situs seperti batu batu bekas Negeri atau Pekon kuno, tapak bekas kaki, pelataran peradilan dan tempat eksekusi, serta Prasasti yang terpahat pada batuan. Dari sebuah batu yang bertarikh 966 Caka yang terdapat di Bunuk Tenuar Liwa, ternyata telah ada suku bangsa yang beragama Hindu telah menjadi penghuni didataran Lampung. Didalam rimba rimba ditemukan parit parit dan jalan jalan bekas Zaman Hindu bahkan pada perkebunan tebu terdapat batu batu persegi dan diantaranya didapat batuan berukir yang merupakan puing candi.
Tafsiran para ahli purbakala seperti Groenevelt, L.C.Westernenk dan Hellfich didalam menghubungkan bukti bukti memiliki pendapat yang berbeda beda namun secara garis besar didapat benang merah kesamaan dan acuan yang tidak diragukan didalam menganalisa bahwa Sekala Brak merupakan cikal bakal bangsa Lampung.
Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak diantara pulau Jawa dan Kamboja. menurut catatan kitab, masyarakat Kendali ini mempunyai adat istiadat yang sama dengan bangsa Siam dan Kamboja.Baginda dari Kendali-Sapanalanlinda mengirimkan seorang utusan yang bernama Taruda ke negeri Tiongkok dengan membawa hadiah emas dan perak, utusan yang demikian dikirim berturut turut hingga abad ke enam.
Menurut L.C. Westenenk nama Kendali ini dapat kita hubungkan dengan Kenali ibukota kecamatan Belalau sekarang. Nama Sapalananlinda itu menurut kupasan dari beberapa ahli sejarah, dikarenakan berhubung lidah bangsa Tiongkok tidak fasih melafaskan kata Sribaginda, ini berarti Sapanalanlinda bukanlah suatu nama.
Berdasarkan Warahan (cerita) dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, dataran Sekala Brak tersebut pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi yang menganut faham animisme. Suku bangsa ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama Belasa Kepampang atau Nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, yang satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah.
Keistimewaan Belasa Kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka Belasa Kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi.
Diriwayatkan didalam Tambo empat orang Putera Raja Pagaruyung tiba di Sekala Brak untuk menyebarkan agama Islam. Fase ini merupakan bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung. Keempat Putera Raja ini masing masing adalah:
a.    Umpu Bejalan Di Way.
b.    Umpu Belunguh.
c.    Umpu Nyerupa.
d.    Umpu Pernong.
Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Skala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli (gadis) yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Setelah perserikatan ini cukup kuat maka suku bangsa Tumi dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah agama Islam di Sekala Brak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam melarikan diri ke Pesisir Krui lampung barat dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan sebagian lagi ke daerah Palembang.
Dataran Sekala Brak yang telah dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan, maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan menggunakan nama PAKSI PAK SEKALA BRAK. Inilah cikal bakal Kerajaan Sekala Brak yang merupakan puyang orang lampung. Kerajaan Sekala Brak.mereka bagi menjadi empat Marga atau Kebuayan yaitu:
A.    Umpu Bejalan Di Way
Memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Bejalan Di Way.
B.    Umpu Belunguh
Memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Belunguh.
C.    Umpu Nyerupa
Memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Nyerupa.
D.    Umpu Pernong
Memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Hanibung, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Pernong.
Sedangkan Si Bulan mendapatkan daerah Cenggiring namun kemudian Si Bulan berangkat dari Sekala Brak menuju kearah matahari hidup. Dan daerah pembagiannya digabungkan ke daerah Paksi Buay Pernong karena letaknya berdekatan.
Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui menempati marga-marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kemudian dapat ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan bantuan lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima orang punggawa inilah nama daerah ini disebut dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya.

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang untuk kemudian dibuat PEPADUN.
Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan SAIBATIN Raja Raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunan keturunannya.
Dengan ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda jatuhnya kekuasaan suku bangsa Tumi sekaligus hilangnya faham
animisme di kerajaan Sekala Brak. Sekitar awal abad ke 9 Masehi para Saibatin Raja Raja di Sekala Brak menciptakan aksara dan angka tersendiri sebagai Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung.
Ada dua makna didalam mengartikan kata Pepadun, yaitu:
1.    Dimaknakan sebagai PEPADUN
Yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk diatasnya adalah Raja.
2.    Dimaknakan sebagai PEPADUN
Yang berarti tempat mengadukan suatu hal ihwal. Maka jelaslah bahwa mereka yang duduk diatasnya adalah tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan.
Ini jelas bahwa fungsi Pepadun hanya diperuntukkan bagi Raja Raja yang memerintah di Sekala Brak. Atas mufakat dari keempat Paksi maka Pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpan, serta ditunjuk sebagai bendahara Pekon Luas, Paksi Buay
Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.
Manakala salah seorang dari keempat Umpu dan keturunannya memerlukan Pepadun tersebut untuk menobatkan salah satu keturunannya maka Pepadun itu dapat diambil atau dipinjam yang setelah digunakan harus dikembalikan. Adanya bendahara yang dipercayakan kepada Benyata semata mata untuk menghindari perebutan atau perselisihan diantara keturunan keturunan Paksi Pak Sekala Brak dikemudian hari.
Pada Tahun 1939 terjadi perselisihan diantara keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Maka atas keputusan kerapatan adat dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, Pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang.

B.    Budaya atau Adat Lampung
    Adat Lampung Pepadun
Adat lampung pepadun digunakan oleh penduduk Abung, Menggala/Tulang Bawang, Way Kanan, Sungkai dan Pubian.
Sistem adat pepadun meliputi :
     Sistem Pepadun Mego
     Sistem Pepadun Bandar
     Sistem Pepadun Sukeu
     Sistem Sumba
Dalam adat pepadun terdiri dari 3 adat pokok :
a.    Adat Cepalo
Yaitu bentuk larangan-larangan yang bertujuan membentuk akhlak dan tingkah laku yang baik dan berbudi luhur, sehingga menimbulkan nilai-nilai harga diri dan norma kehormatan pribadi maupun keluarga (Piil Pesenggirei).
Dalam Piil Pesenggirei terdiri atas 5 unsur :
     Bejuluk Beadek
     Sakai Sambayan
     Nemuk Nyimah
     Carem Ragem
     Mufakat

b.    Adat Ngejuk Ngakuk
Yaitu adat dalam perkawinan yang merupakan sumber utama dari adat perkawinan upacara adat.
c.    Adat Kebumian
Yaitu keserangkaian persyaratan untuk baik materi maupun nonmateri yang diperlukan guna menempatkan seseorang sebagai warga adat pada tingkat adat tertentu dalam keadatan.
Pada dasarnya setiap anak yang lahir dari ibunya yang berasal dari suku lampung asli maka secara otomatis dia menjadi warga masyarakat Adat lampung dan berhak mendapat adat atau julukan.

    Adat Lampung Saibatin (Lampung Pesisir Saibatin)
Pada umumnya menggunakan bahasa yang berdialek “A” tetapi ada yang beradat Saibatin yang menggunakan dialek “O”
Masyarakat Lampung Saibatin adalah kelompok yang berusaha menjaga kemurnian darah dalam kedudukan seseorang pada jabatan adat, yang oleh masyarakat Lampung lazim disebut kepenyimbangan. Seseorang tidak boleh menduduki jabatan kepenyimbangan walaupun ia sebenarnya memiliki potensi untuk itu, kalau ia bukan orang yang memiliki aliran berdarah biru.
Perbedaan antara Adat Saibatin dengan adat Pepadun :
Adat saibatin mempertahankan kemurnian darah biru, sedangkan adat pepadun memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk meningkatkan harkat dan derajatnya melalui peningkatan kedudukannya dalam strata adat asalkan mempunyai kemampuan ekonomis untuk memenuhi segala persyaratan, yang memang membutuhkan dana yang tidak sedikit, disamping dukungan masyarakat.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Asal usul ulun lampung atau orang Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah ulun Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sampai meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.
Sekala Brak memiliki makna yang dalam dan sangat penting bagi orang Lampung. Sekala Brak melambangkan peradaban, kebudayaan dan eksistensi Lampung itu sendiri. Bukti tentang kemasyuran kerajaan Sekala Brak didapat dari cerita turun temurun yang disebut warahan, warisan kebudayaan, adat istiadat, keahlian serta benda dan situs seperti tambo dan dalung seperti yang terdapat di Kenali, Batu Brak dan Sukau.
Kata "LAMPUNG" sendiri berawal dari kata Anjak Lambung yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi.
B.    Kritik dan Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis menginginkan adanya kritikan guna untuk pembuatan makalah yang akan datang dapat lebih sempurna lagi.

 
Ari Prasetyo Purbolinggo Lampung Timur - |